Sunday, July 3, 2016

NAPAS CINTA SANG PENEDUH JIWA

Entah apa yang terjadi pada hatiku, segumpal kasih telah menumbangku ke jalan lirih, sebongkah sayang telah memuncak mencakar kerinduan, ketika sebaris senyum telah memecah noktah hatiku yang bersandar sepi pada sudut pilu.

Aku tiada pernah berpikir akan akibat daripu ada cinta, karena aku tau engkau memilihku bukan untuk me
nderita, yang sekejap mesra namun kini terpasung diistana duka.

Aku tiada menyesal telah menjadi kekar karena keadaan, telah menjadi tegar menantang untuk kehidupan, namun jiwaku rapuh, hatiku terbelenggu rantai pilu, aku rindu akan cahaya dari lentera kasih sang peneduh jiwa.

Duhai sayang?.
Mataku tiadalah buta, namun sejak kepergianmu laju hidupku bagai hilang arah, jiwaku tiadalah mati hingga didalam ingatanku, engkau slalu hidup dan tiada pernah pergi.

Duhai sayang?.
Jauh sudah langkah hatiku berjalan, menyusuri jejak pilu yang engkau tinggalkan, jejak cinta yang bersimbah duka, yang membuat jiwaku tenggelam dilautan nestapa.

Rinduku tiada terkendali, sayangku kian merobek dinding hati, bergejolak meronta menembus tirai mimpi, dan aku terbenam pada belaian kasih yang tiada mungkin dapat tersentuh lagi.

Kini lelah sudah aku menangis dengan tiada lagi airmata, sakit sudah aku menjerit hingga hilang nada suara, namun cintaku slalu bertahta didalam jiwa, bersama do,a yang menggumpal disetiap aliran darah, untuk bahagiamu yang kini jauh entah
– D I M A N A –