Thursday, November 24, 2016

HANYA TERATAI MIMPI

Kudayung sudah perahu kayu, untuk menyusuri rimba, duka dari sungai cintamu yang keruh, duka dari sayang yang terbuang, duka dari cinta yang terabai, hingga kisah asmara menjadi berakhir dengan menyakitkan.

Engkau yang telah membuka gerbang hati untuk cintaku, engkau yang telah membimbing aku untuk menikmati megahnya istana sayangmu, namun mengapa badai salju membekukan mata hatimu, hingga musim semi dari cintaku engkau paksa kemarau sebelum waktu..



Habiskah sudah kayu terbakar yang bersusun rindumu dari hangatnya lelapku dikala malam, hingga hanya arang duka yang melukis noktah cinta, pada dinding hatiku yang kini merana..

Begitu keraskah hatimu, begitu tinggikah egomu, hingga tiada merasa iba akan gejolak hatiku yang tersiksa, hingga bagai secangkir kopi pahit yang kurengguk perlahan, cintaku mengalir berulang dalam kesenduan..

Tiadakah lagi perasaan sayang, dari pelangi rindumu yang slalu aku impikan, sedang sayap kupu kupu dalam hatiku. masihlah mengharap manisnya sari madu dari cintamu..

Duhai sayang..
Aku tiada meminta gemerlap cintaku bagai pesta bintang, namun cukuplah hiasi rongga jiwaku dengan kerlipan kunang kunang, yang menerangi hariku dengan cahaya keindahan..

Duhai cintaku.
Entah sampai kapan hatimu membatu sedang sayangku masihlah berayun pada indahnya purnama cintamu, sedang rinduku masihlah sebening embun pagi, yang mengalir indah diatas teratai..
– M I M P I –