Thursday, November 17, 2016

MENGGANTUNG IMPIAN DIPUNCAK HARAPAN



Ketika irama rindu telah mengalun bisu dirongga kalbu, hanya nada lirih yang menggetar hati yang pedih, dari kesucian cinta yang kian temaram diredup cahaya.

Kulewati malam dengan tiada kesan, disaat lelapku engkau tiada nampak dalam impian, sedang gelembung do'a telah pecah dan terbelah, untuk harapan cinta dapat berlabuh pada dermaga asmara yang mesra.



Waktu demi waktu tiada kulelah untuk menunggu, namun mengapa hanya nada sendu yang kau dendangkan pada cintaku, sedang langit diujung malam, masihlah semarak untuk berpesta menyambut sayang
dari putihnya cintaku yang engkau abaikan.

Duhai pujaan?.
Aku yang mengikuti arah cintamu, aku yang mengharap pelangi sayang darimu, namun mengapa engkau menutup ruang rindu untukku, hingga bagai bias cahaya yang menembus tebalnya dinding kaca, ketulusan cintaku hanya engkau anggap fatamorgana.

Duhai sayang
?..
Tiadakah engkau dengar angin yang berbisik, tiadakah kau lihat purnama yang terbahak, dari cintaku yang sangat mengharap balasan sayang darimu.

Karena engkaulah kubah dari cintaku, tempatku bersujud dan berpayung sayang dari cintamu,
karena engkaulah dermaga kasihku, tempat hatiku bersandar dari terpaan badai asmara yang mengguncang.

Kini tiada kusesali bila yang bertahta diatas mega, tiada memberi cahaya pada cinta kita, namun ijinkanlah, tangkai rindu dari mekarnya taman anggrek cintaku, untuk slalu menghias bumi kahyangan, pada indahnya istana
- C I N T A M U –