Saturday, December 3, 2016

LEMBAR 22


Ketika engkau telah menjadi tamu istimewa dan menjadi permasuri dalam indahnya singgasana kasih, hingga bagai pasir yang menghampar, kucurahkan engkau dengan banyaknya kasih dan sayang.

Perahu asmara telah jauh melaju, menyusuri riuhnya gelombang kehidupan yang menderu, walau begitu banyak karang terjal yang menghadang, namun menara cinta tiadalah akan tergoyahkan.

Kujunjung tinggi mahkota cinta, kudekap erat bahtera kasih, namun cinta putih tiada akan ternoda, walau cobaan hidup silih berganti, karena cinta ini tiada akan terhenti, walau sampai bayangan hitam akanlah memayungimu dalam usungan tanduku nanti.

Karena sumpah kesetiaan yang telah menggetar bumi restu istana lautan, tiadalah akan mampu teracuni oleh peri pemimpi yang berhati keji.

Sesak sudah helaan napas terhimpit misteri dari murka bumi yang panas, hingga surga yang kita impikan, hanyalah butiran pil pahit yang tertelan.

Entah skenario apa? yang menjadi rahasia dari naskah sang penguasa semesta, sedang dibalik cobaan begitu banyak airmata yang mengharap belaian.

Duhai sayang..
Tiada kusesalkan disaat peruntungan yang melekat menjadi hangus terinjak injak oleh hati iblis yang berparas malaikat, hingga senyum yang mengambang harus terbenam kepalung duka yang sangat dalam.

Kini dilembar 22..
Marilah bersama kita membangun asa untuk menutup lembar 
terbuka dari goresan pena yang telah basah dengan airmata, hingga kelam sirna terbuang, erkubur bersama asa yang kelam.

Karena senandung do’a dari tasbih yang tergenggam akanlah menjadi permata yang berkilau, hingga jalan kedepan tiadalah lagi menjadi
– S U R A M –