Friday, December 30, 2016

RUNTUHNYA PERON KESETIAAN


Entah sampai kapan aku begini bersandar kasih pada dermaga cinta yang pedih, sedangkan istana langit yang engkau janjikan, hanyalah mimpi manis digelapnya malam.

Bila bukan karena restu tuhan, tiadalah mungkin cintaku datang dengan keharuman, karena sesungguhnya cintaku laksana birunya angkasa, yang tiada pernah luntur termakan waktu
dunia.


Cintaku begitu mulia, hingga aku tiada dapat berpaling walaupun surga akan menjadi pembanding, karena cinta untukmu bukanlah singgahan dari kerisauan hatiku yang bersandar pada peron kerinduan.

Namun mengapa?.
Disaat kerinduan berbuah manis dengan rasa sayang,
cintaku kau balas dengan kebohongan, sayangku kau nodai dengan kecurangan.

Tiada hasratku untuk melarang akan kebebasan yang engkau inginkan, tiada mauku untuk melukai akan perasaan hati yang aku sayangi, namun janganlah kau gores wajah kesetiaan dengan sayatan dusta yang menyakitkan.

Begitu dahsyatkah sihir matahari, hingga keindahan rembulan hanya
engkau pandang sebagai kepingan kedukaan, sedang debunya surga yang menggunung, engkau jadikan tempat yang indah untuk cintamu bernaung.

Duhai sayang?.
Terkuncikah semua panca indra, hingga hati dan pikiran telah membuatmu dalam kebodohan, hingga dunia cinta yang indah kini hanya menjadi bara neraka, yang membakar dan menghangus keutuhan cinta kita.

Harus aku akui bahwa siapapun tiada dapat menahan akan kehendak yang sudah digariskan oleh tuhan, hingga aku yang terlahir untuk cintamu, namun aku tiada berdaya dikala engkau melepas genggaman sayangmu.  

Duhai sayang?..
Kini biarlah aku berjalan perlahan dari pada berlari mengikuti arah cintamu
namun aku tersesat jalan dan haruskah peron kesetiaan akan menjadi tumbang, bila hanya ratapan panjang yang slalu aku
– R A S A K A N –