Wednesday, February 21, 2018

CINTAKU TERSESAT DIBELANTARA RINDU

Ketika harapan manis telah bersandar diujung keris, menikam gumpalan sayang yang melambung kepuncak harapan, sehingga masa indah seketika sirna, manakala dilentik senyum rembulan, engkau biarkan aku terlelap dalam kedukaan.

Adakah bumi lain yang lebih indah dari cintaku, sehingga dengan tiada badai cintamu merubah haluan, sedang aku disini menanti rindu dengan tiada kepastian, sehingga aku yang telah terbuai dengan irama dusta yang engkau mainkan, kiranya tiada menyadari akan tajamnya duri cintamu yang menusuk hati.



Entah adakah setangkai mawar yang telah tumbuh subur didalam hatimu, ataukah ada setangkai melati yang telah menangis karena cintamu, sehingga laksana pengembala yang menghitung banyaknya domba, kulalui hariku dengan tiada bermakna.


Maka janganlah engkau menjadikan cintaku sebagai tempat persinggahan, seperti berjuta kupu kupu yang hanya mengambil sari madunya bunga, sehingga aku yang telah larut dalam belaian kasihmu, kiranya harus menjadi layu oleh manisnya rayuan berbisa dari cintamu.


Tiadakah engkau mempunyai takaran, sehingga engkau tiada mampu menilai berapa banyak orang lain mencintaimu, sedang do”a yang aku panjatkan hanyalah untuk satu cinta yang akan menemani jodohku sampai diakhir usiaku.


Karena walaupun segumpal hati telah engkau lukai, namun nyatanya aku tiada sanggup untuk membenci, karena cintamu laksana cakar tarantula yang menerkam mangsa, yang membuat jiwaku tiada berdaya untuk meronta, sehingga manalah mungkin aku mencari indah kepada cinta yang lain disaat cintamu telah bersanding.


Duhai sayang.

Entah sampai kapan sedihku akan berlalu, sedang engkau yang aku sayang kiranya sudah tiada menghirau akan perasaan, entah kemanakah harus kucari kekurangan atas cintaku, sedang kesetiaan hanyalah tamparan hati yang menyakitkan.

Manakah senandung rindu yang engkau dendangkan, manakah manisnya janji yang begitu sedap dikala lisanmu mengecap sayang, sedang disetiap datangnya malam, cintamu hanya membuatku larut dalam kedukaan.

Sedang engkau yang meminta aku percaya namun mengapa sikap dan tingkahmu membuatku curiga, sehingga dengan tiada menimbang perasaan, kiranya engkau telah melelapkaku dalam buaian kedukaan.

Karena walaupun dengan airmata engkau pernah meminta untuk dicinta, namun nyatanya direntang waktu yang panjang hanya kesenduan yang aku rasakan, sehingga nyanyian hatiku laksana derap kuda yang tiada berlagu, yang hanya mampu berijak meringkik dan mengepak namun tiada mampu terbahak.


Duhai sayang.

Tiadakah engkau ingin membuatku tersenyum seperti anak anak yang berlomba sepeda sepulang sekolah, yang begitu riang dengan hati yang tiada terbeban, yang begitu ceria dengan hati yang tiada terluka.

Karena bukanlah harta dunia yang telah membuatku bahagia, ataupun sepayung senyum yang membuatku tiada dapat tidur, namun kesetiaan dalam berkasih sayanglah yang aku dambakan, yang akan slalu harum sepert klopak bunga yang terendam ribuan tahun didasar palung.


Duhai sayang..

Bila memang cinta yang aku berikan telah menyakitkan, maka ajarilah aku untuk menjadi sesuatu yang engkau inginkan, seperti tangan tangan terampil yang menghias debu menjadi tembikar, sehingga cintaku yang tiada berharga, kiranya akan menjadi sesuatu yang istimewa untuk engkau rasakan.

Haruskah aku menangis ketika cinta menjadi hancur, seprti segumpal batu yang lemah terapung, sedang engkau yang telah tega menyakiti, kiranya telah menjadi orang yang paling berharga untuk aku cintai.


Maka janganlah kepercayaan yang aku berikan membuatmu laksana hewan penjaga yang lepas tali pengekang, yang menjadi tiada terkendali untuk bermain hati, yang menguras perasaan dengan tiada peduli kepada siapa cintaku bersandar, sehingga dengan lincahnya engkau memperdaya cinta dari hati yang terluka, dengan tiada menimbang rasa kiranya pesona cintamu telah menjeratku kedalam asmara duka.


Ya allah.

Bila bumi yang aku pijak telah mampu engkau getarkan, mengapa segumpal hati yang menjerit dengan ratapan, tiada engkau bukakan pintu kebenaran, sehingga laksana memikul segunung batu, kiranya langkah cintaku telah tertatih dibelantara
– R I N D U –

No comments:

Post a Comment