Sunday, March 11, 2018

JALAN MESRA CINTA KITA


Ketika diresah hati engkau biarkah diriku berpangku dalam sepi, hanya debu debu kerisauan telah mengotori sayap kerinduan, sehingga hujan rindu yang yang membanjiri ruang kalbu, hanya menitik airmata dimalam bisu.


Andai saja cinta kita dapat terengkuh sampai dipenghujung usia, niscaya tiada mungkin segumpal hati akan berduka, sehingga aku yang berlayar diatas perahu kerinduan, kiranya hanya mampu mendekap bisu disenyum bayangan.


Entah rahasia apa yang terjadi dalam hidupku, kiranya pesonamu slalu menari diruang khayalku,sehingga laksana terjerat sihir yang berjuta mantra kiranya pesona cintamu telah membuaiku kedalam asmara indah.


Karena engkaulah teman yang telah mencuri perhatian, yang membuat keringnya tangkai hatimu menjadi berbunga dalam rajutan manjamu yang mesra, sehingga manalah mungkin musim semiku menjadi indah apabila dijalan mesra cinta kita tiada dapat bersama untuk melaluinya,


Maka janganlah engkau biarkan mawarku berduka, seperti kunang kunang yang tersesat digelombang teratai kerinduan, yang hanya mampu mengepak sayap dengan cahaya indah namun tiada mampu untuk terbang, sehingga apalah guna bila digemuruh rindu engkau biarkan hatiku bisu.


Duhai angin yang berhembus sampaikanlah hasrat yang menangis, karena manalah aku sanggup berjauh darinya, apabila didinginnya malam dibenak naluri hanya parasnya yang terbayang dalam ingatan.



Duhai sayang.

Entah sanggupkah aku bertahan disaat cintamu pergi jauh dari dasar hati, sedang diary biru dari manisnya cintamu kiranya masihlah memanja diriku dengan symponi yang merdu.


Karena walaupun tiada kulihat engkau berjalan, namun derap hati yang engkau lalui, kiranya telah membawa jiwaku kemanapun engkau pergi, sehingga manalah mungkin resahku dapat terlerai, apabila senyummu tiada nampak dari pandangan.



Entah adakah kasihmu telah bertukar benci, sehingga dengan tiada perasaan kiranya cintaku engkau abaikan, sehingga gemerlapnya kasih sayang kiranya cintaku hanya menari dipentas kebisuan.



Tiadakah engkau merasakan, betapa hatiku menjadi hancur manakala cintamu tiada sepersandingan, sehingga laksana dahan yang terlepas dari ranting, kiranya hatiku berduka manakala cintamu tiada lagi bersanding.



Maka janganlah engkau membuatku berpangku menanti rindu, yang hanya dapat tersenyum namun tiada mampu mengutarakan isi jiwa, karena pesonamu laksana hujan salju dimusim dingin, yang membuatku tiada henti menggigil dan menjadi hangat manakala ditubuh kita telah menyatu dalam rindu.



Duhai sayang.

Apakah tingkahku telah menyakiti, sehingga engkau kini seakan tiada peduli ataukah ada cinta lain yang lebih berharga, sehingga dengan tiada kata berpisah cintamu kelana, karena manalah mungkin hidupku menjadi berkesan apabila dilentik senyum rembulan diriku engkau biarkan kesepian.


Haruskah seumur hidup aku begini, menanti rindu yang tiada pasti, sedang cinta yang engkau janjikan hanyalah laksana butiran hujan yang jatuh dikerasnya jalan beraspal, yang hanya dapat menyentuh namun tiada memberi kedamaian.



Entah dapatkah kita bergandengan tangan untuk bersama melewati senja, seperti berjuta insan yang terbakar gelora remaja, sehingga jalanku dibumi mimpi yang tandus kiranya akan menjadi subur tersiram oleh hujan cintamu.



Karena bukanlah sekuntum bunga yang akan membuat sayangku mengangkasa ataupun sepayung senyum yang akan membuatku terlelap tidur, namun seladang cintalah yang kudamba, yang membuat suramku menjadi bercahaya.



Maka marilah kita merantai tangan menuju dunia impian, dunia yang dipenuhi oleh hati pencinta, sehingga digemerlapnya bintang kerinduan, kiranya cinta kita tiada bermesra dipesta yang usai.



Ya Tuhah..

Entah aku menunggu siapa, apabila dijalan mesra dirimu tiada besertaku melaluinya, sehingga disetiap lerai senja resahku tiada berduka, karena telah kurelakan nyawaku menjadi tiada berharga ketika sebuah permata jiwa telah mengambil tempat terindah dalam istana
- C I N T A K U -

No comments:

Post a Comment