Thursday, September 15, 2016

MENARA CINTA YANG GOYAH


Ketika langit menjadi gulita, suram tiada bercaya, hening tiada bersuara, hanya rembulan merah yang menangis bisu dilautan mega, bagai cintamu yang kian redup tersiram oleh rasa curiga.

Sudah tiadakah kesempatan bagiku untuk memperbaiki tingkah, dari prilaku yang slalu engkau anggap saah, sehingga bagai cermin yang terbelah cintamu patah, hingga bagai perahu yang poranda sayangmu musnah.



Entah apa yang harus aku katakan, sedang keluhku tiada ingin lagi engkau dengar, entah apa yang dapat aku banggakan, sedang kerasnya hatimu seakan tiada menjadi luluh oleh pedihnya perasaan.

Duhai cintaku..
Janganlah menghakimi aku bila kebenaran itupun tiada nampak pada dirimu, karena untuk cinta aku rela bathinku tersiksa, karena untuk sayang aku rela bahagiaku terbuang.

Duhai sayangku..
Hatiku bukanlah sebongkah karang yang mampu bertahan dari segala cerca dan hinaan, namun hatiku hanya segumpal kapas yang terlalu rapuh untuk engkau dustai, yang terlalu ringkih untuk engkau sakiti.

Entah harus kemanakah kugayuh biduk bahtera, sedang gelombang rinduku kini telah engkau anggap sebagai lautan dusta, entah masih dapatkah kita lalui rimba
asmara, sedang jejak sayangmu kini telah menjadi suram dan kusam, tiada lagi indah seperti yang pernah engkau
– J A N J I K A N –