Monday, September 19, 2016

PERMATA HATI BUNDA


Ketika nyawa menjadi taruhan, dikala sebuah amanah suci telah datang sebagai tamu kehidupan, hingga tiada sesal walau usia harus terpenggal asalkan sibuah hati tiada terhenti untuk merajut impian.

Bagai berkilau intan dikala engkau datang sebagai sang pajar, hingga hilang rintih yang menyayat, hingga sirna perih yang mecabik, manakala lelahnya penantian kini telah terbayar oleh senyuman.


Kudepap engkau dengan berjuta sayang, kujaga dan bubelai untuk dunia barumu dalam menatap
kehidupan, hingga tiada setetes asi yang terbuang untuk tumbuhmu menggapai harapan juga impian.

Duhai permata bunda..
Sayangku tiada batas, cintaku tiada henti, karena separuh jiwaku. telah mengalir deras diantara merahnya darahmu, karena menara kasihku tiada akan patah untuk memayungimu, hingga dikala pedihmu menyapa pastilah juga akan menyayat dijiwa .

Do,aku mengalir deras disetiap hembusan napas, sayangku menjulang tinggi di istana kasih, hingga tiada hari siang aku merasa lelah untuk menjaga ataupun larutnya malam aku dapat nyenyak untuk terlena, hanyalah untuk senyummu duhai permata bunda.

Kutelan pahit walau hati menjerit, kurela pedih walau hati merintih asalkan jejak pilu tiada menyandung laju hidupmu, asalkan langkah salah tiada menghadang langkah kemuka.

Duhai permata bunda..
Bila usiaku tiada lagi muda ataupun cahayaku redup sebelum senja, janganlah perbedaan menjadi angkara ataupun engkau menjadi pongah bila telah perkasa, karena cinta untukmu bukanlah sebagai neraca penimbang, yang dapat tertakar, terhitung dan dapat
– T E R B A Y A R –