Monday, September 26, 2016

SANDIWARA CINTA

Ketika rasa sakit telah menggerogoti sendi hati, terhenti aliran darah terkubur harapan jiwa, hanya menara cinta yang berdiri perkasa dengan balutan do,a., pada cintamu yang kini telah bersimpang arah.

Entah mengapa gumpalan cinta harus menjadi pecah, mesramu telah sirna sayangmu tiada lagi senada, hanya senandung lirih yang merobek lembaran hati, dari cintamu yang kini berlalu pergi.



Begitu pandai lisanmu untuk bermanis kata dalam menggoda, begitu lembut hatimu untuk membuatku terbuai dengan irama dusta, hingga bagai lampu kristal yang berputar, jiwaku melayang terbang dan terjatuh kedalam napas kerinduan.

Namun mengapa setelah kapal telah jauh dari sandaran, lalu kau lepas sekoci untuk cintaku yang kini engkau lupakan, hingga hatiku terdampar, terhempas dan terbuang pada terjalnya karang bisu dari manisnya cintamu yang kini telah membeku.

Kini usahlah engkau bersandiwara untuk bersedih disaat hatiku terluka, karena kuntum bunga yang telah terbakar api tiadalah akan berseri lagi, dari indahnya cahaya cinta yang kini telah engkau
– D U S T A I –