Friday, February 24, 2017

GUGUR BUNGA DILERENG GUNUNG LAWU YANG MEMPESONA

Sungguhlah indah panorama alam, merah temaram disenja yang gemilang, bersuka riang dara ayu dibawah pancuran, membersih badan dicurah grojogan sewu yang sangatlah indah dan menakjubkan.

Inilah lembah misteri yang begitu indah laksana tempat bermandi para bidadari, inilah surganya bumi yang tersembunyi hingga siapapun yang bersinggah pastilah tiada ingin berlalu pergi.

Disini, dilentik jemari kaki dialas gunung lawu aku berdiri, kuikat janji untuk sama sehati, kupahat cinta untuk tiada terpisah dan kusandarkan kasih sayang, pada dirimu duhai bidadari gunung lawu yang telah merebah hatiku dalam istana kerinduan.

Sabdaku menggema, menggetar curah tebing grojogan sewu yang perkasa, ikrarku mengangkasa meroket mengguncang langit restu singgasana dewata, karena engkaulah gadisku, mustika yang memancar sinar terang dalam jiwaku, karena engkaulah bidadariku, tautan hati tempatku berkasih, hingga bagai insan yang tiada bernalar jiwaku terguncang hanyalah untuk memikirkan dirimu seorang.

Mungkin inikah cinta, yang telah membuat lelapku gelisah ataukah perasaan sayang yang telah membalut hatiku dengan kerinduan, singga aku terlupa untuk tanggal aku terlahir, karena yang kuingat hanya parasmu yang senantiasa melekat dalam benakku.

Duhai sayang.
Masihlah terbayang dalam ingatan manakala jemari mengait tangan berayun, menyusuri rindang stroberi dalam tautan hati dan bersantap nikmat sate kelinci yang begitu lezat, hingga laksana hujan embun yang berjatuh dibening telaga madirda, gelombang pesonamu telah menggetar naluri cintaku untuk seracik dalam buaian asmara.

Maka terkutuklah aku bila mendustakan cintamu, karena sesungguhnya cintaku bukanlah laksana kera kera nakal yang banyak berlari liar dirimba dahan, yang ingin meraih cintamu dengan kecurangan, yang ingin membawamu dengan tiada restunya tuhan.

Malamku bisu tanpa bayangmu, hatiku kelu dikala jauh darimu, hingga laksana curah grojogan sewu yang deras mengalir, niscaya cinta untukmu tiadalah akan pernah bergulir.

Bukanlah curamnya pendakian yang membuat hatiku gentar, bukan pula laknat dari kretek pegat yang membuat cintaku berkarat, namun candi sukuh yang licin dan berkabut telah membuat hatimu tergelincir dan terjatuh kepada cinta yang lain, sehigga apalah dayaku, kiranya waktu indah tiada bergulir lama, belum puas aku menyayang belum genap cinta terikat, harapanku layu dikala kebebasanmu terpetik dalam pinangan.

Duhai sayang?.
Cintaku tiada akan layu walau engkau tiada menjadi milikku, karena cintaku tiada dapat dihancurkan, karena sayangku tiada dapat terpisahkan, hingga laksana patung semar yang bersila gagah dikarangpandan, aku akan menantimu walau berjuta tahun akan berlalu.

Kini, tiada kusesal telah bertaut hati padamu, karena sesungguhnya pahatan cintaku tiadalah akan rapuh dan tiada aku lelah untuk menunggu, karena aku yakin hatimupun masihlah berbertaut rindu
– K E P A D A K U -